Belantara Baru Media Sosial bagi Pemilik Merk

Kebangkitan media sosial online seperti friendster, facebook, twitter tentu tak lepas dari pantauan pemilik merk. Mereka sangat peduli, namun memanfatkannya dengan pendekatan konvensional. Cukup pasang banner atau iklan. Pada saat ingin mengelaborasi secara penuh, ada semacam kebingungan tentang bagaimana media sosial itu bisa cocok dengan marketing sebuah merk.

Menurut Tom Smith dari Trendstream.net ada beberapa hal mengapa pemilik merk sedikit kesulitan dalam pemanfaatan sosial media sebagai alat marketing. Di antaranya adalah:

1. Media Sosial sering dipandang sebagai kanal marketing: Padahal dalam kenyataannya lebih dari itu. Kemampuan media sosial yang bersifat seperti virus, dapat digunakan untuk berinteraksi dengan pelanggan dengan pendekatan yang sama sekali berbeda. Tidak hanya searah dari pemilik merek ke pelanggan, tapi banyak arah (multi channel). Dari pelanggan ke pelanggan lainnya. Dari pelanggan ke pemilik merk. Dan dari pemilik merk ke pelanggan.

2. Media sosial tidak masuk dalam struktur saat ini: Saat ingin mengelaborasi media sosial, siapa yang sebetulnya paling kompeten. Apakah bidang hubungan kemasyarakatan (public relations)? Apakah dari sales? Atau dari marcomm (marketing communication)? Ini memaksa mereka melakukan strategi yang holistik agar bisa masuk dengan baik.

3. Komunitas dan kontennya global: Pengguna media sosial, berhubungan dan mengonsumsi informasi yang bersifat global. Mereka tidak terlalu peduli dengan batasan negara. Sedangkan marketing secara umum hanya menentukan target secara nasional atau regional. Hanya sedikit yang memiliki perspektif global.

4. Media sosial membutuhkan pendekatan jangka panjang: Untuk membangun komunitas, mendistribusikan materi, atau meminta masyarakat secara aktif terlibat seringkali memakan waktu. Marketing hanya punya waktu sedikit, ada target jangka pendek yang harus dicapai.

5. Tidak ada jaminan hasil: Anda bisa pasang iklan, dan itu dijamin akan jalan. Anda bisa berpatokan pada angka-angka seperti readership (tingkat baca), page views (berapa kali halaman tersebut ditampilkan), dan Anda bisa mengoptimalkannya hingga target tercapai. Ini disebut push medium. Media sosial lebih bersifat pull medium. Anda harus menarik mereka, dan tergantung mereka mau mengambil atau tidak. Tergantung kreativitas, membuat pemanfaatan jejaring ini menjadi lebih sulit.

6. Metrik yang digunakan sama sekali baru: Perusahaan selalu berpatokan pada angka-angka yang fantastis jika menyangkut iklan. Iklan dihitung dari jumlah eksposur. Sedangkan media sosial tergantung pada intensitas sosial, seperti berapa jumlah rekanan yang tergabung, berapa jumlah jaringan yang tersambung, berapa komunikasi yang terbuat dan seterusnya.

Beberapa paradigma memang perlu diubah, agar media sosial ini dapat termanfaatkan dengan baik sebagai media marketing. Apalagi kondisi ekonomi yang sulit, keuangan yang menipis, terus memaksa marketer untuk lebih kreatif dalam menjangkau pelanggan.

Share and Enjoy:
  • Facebook
  • LinkedIn
  • Digg
  • Ping.fm
  • Google
  • Print this article!
  • Technorati
  • E-mail this story to a friend!

Tags: , , ,

One Response to “Belantara Baru Media Sosial bagi Pemilik Merk”

  1. Ramadhan says:

    Menurut saya hasi dari online IMC adalah brand awareness saja, sekedar khalayak sasaran bilang : oo…Merk A itu untuk pasta gigi toh……

Leave a Reply

TAGS